Minggu, 25 September 2011

Menanti Kematian

Minggu ini benar-benar adalah minggu duka cita bagi saya.
Rabu, 22 Agustus 2011, pagi-pagi sekali saya sudah mendapatkan SMS dari seorang teman anggota kami Koor Ama HKBP Bogor, bahwa teman kami Bapak SH Tambunan telah meninggal dunia pagi Jam 05.00 di RS Marzuki Bogor. Beliau ini termasuk anggota kami yang sudah puluhan tahun selalu aktive dalam persekutuan Koor Ama, dan merupakan andalan kami untuk suara Bass. Sekitar tahun 2009 beliau ini sudah mulai sakit-sakitan dan secara drastis kondisi tubuh beliau semkin lemah. Pada suatu ketika beliau ini membawa sebuah partitur lagu kepada saya dan mengatakan: "Guru, molo mate ahu sogot, on ma endehon hamu paborhathon ahu". Lagu tersebut nampaknya ditulis sendiri oleh beliau dan ditandatangani.
Rabu siang, Amangboru saya Pardede menelepon saya mengatakan Namboru saya (isterinya) yang sudah lama sakit, kembali masuk ke ICCU di RS Mitra Keluarga Depok. Perasaan saya mengatakan bahwa ini mungkin adalah kunjungan terakhir Namboru ini ke Rumah Sakit setelah beberapa kali pulang balik dirawat karena penyakit Cancer yang menggerogoti tubuhnya. Saya langsung menghubungi kerabat2 dan menyampaikan perasaan saya agar kami sekeluarga siap-siap kalau2 sesuatu terjadi dengan Namboru ini. Benar saja, ketika sekitar Jam 1900 saya sedang mempersiapkan lagu untuk penghiburan ke kel Amang SH Tambunan, Amangboru saya Pardede menelpon saya bahwa Namboruku yang sangat baik dan lemah lembut itu telah pulang kepada Bapanya di Surga.
Hari ini, setelah rapat saya selesai jam 11:00, menunggu rapat selanjutnya, saya mebuka facebook saya sambil menunggu makan siang. Dan sungguh saya terperanjat membaca status @Monang Naipospos memberitakan bahwa saudara saya @Robert Naibaho telah juga menghadap kepada Sang Pencipta. Robert Naibaho, seorang professional yang telah mencapai puncak kariernya di salah satu perusahaan BUMN besar di negeri ini, adalah seorang Batak asli yang sangat peduli dengan kampung halamannya dan Habatahon. Walaupun perkenalan kami dimulai melalui media Facebook ini, tapi kesantunannya berbahasa batak, dan kepeduliannya kepada Habatahon dan Danau Toba mempercepat kami untuk saling dekat, terlepas dengan hubungan khusus antara marga kami, yang menyebabkan beliau selalu memanggil saya dengan sebuttan Ampara Raja Sidoli.
Ada hal yang menarik bagi saya dari meninggalnya Amang SH Tambunan dan Namboru saya Ny Pardede Herawati br Sihombing. Sementara meninggalnya saudaraku Robert Naibaho sungguh sangat mengejutkan bagi saya.
Sering kali kita mengatakan bahwa kita tidak pernah mengetahui kapan kematian itu akan datang, bahkan kita sering kali merngibaratkan bahwa kematian itu seperti pencuri malam. Bagi saya kematian Amang SH Tambunan dan Namboru saya adalah sebuah kematian yang sangat indah. Sebuah kematian yang dinantikan dan disiapkan.
Amang Tambunan ini telah mempersiapkan dirinya menunggu kematian tersebut hampir setahun lebih. Bahkan seluruh kehidupannya pada tahun2 terakhir hayatnya adalah mempersiapkan diri menuju kematian tersebut. Coba kita simak lirik lagu yang beliau pilih untuk kami nyanyikan di hari kematiannya:

Ale Amang Asi RohaM (BE No. 681)

Ale Amang Asi rohaM di ahu pardosaon
Unduk do rohangkon nuaeng marsomba tu joloM
Unang jujur, unang jujur, angka dosangki
Sai salpuhon, sai salpuhon sian rohaMi

Ale Amang sai pargogoi ma ahu dihasiangan on
TondiM pasaor tu tondingkon pamalum rohangkon
Sai usehon, sai usehon TondiMi di ahu
Asa monang maralohon parungkilon au

Mauliate ma di Ho O Tuhan Debata,
Sai jalo ma au on muse tu surgo banuaM
Asa sonang, asa sonang raphon Ho disi
Pujionku ma goarmu Salelengna i

Lebih dari itu, selama masa menurunnya kesehatannya, dia tidak pernah melewatkan setiap hari Jumat malam untuk ikut bersama-sama dengan kami dalam latihan koor walaupun suaranya sudah sangat lemah. Saya sungguh sangat kagum dengan Inang boru Siahaan (istrinya) yang dengan sabar mengantarkan beliau ke persekutuan kami setiap jam 7 malam dan menunggunya untuk pulang 2 jam berikutnya. Demikian juga saya dengar dengan persekutuan Lanjut Usia (LANSIA) yang diikutinya. Bahkan menjelang kematiannya pakaian yang akan dipakai pada kematiannya pun sudah dipilihkan yakni Pakaian Seragam mereka di Kategorial LANSIA yang baru-baru ini mereka pakai pada Festival LANSIA se-Distrik Jawa Kalimantan. Dia juga sudah mempersiapkan riwat hidup sendiri yang harus dibacakan oleh anaknya pada hari kematiannya. Dan menurut kesaksian Inang br Siahaaan, menjelang kematiannya Beliau dengan tulus meminta maaf secara khusus kepada Inang itu atas semua kesalahan2 yang dia perbuat dan ketidakbahagiaan selama kebersamaan mereka.

Hal yang sama juga terjadi dengan Namboru saya Herawati boru Sihombing. Seakan telah mengetahui waktunya telah tiba, dalam 2 hari menjelang kematiannya begitu lancarnya beliau bercerita dan berbicara dengan semua keluarga yang menunggui beliau selama di rumah sakit. Dengan rinci dia menyampaikan pesan2 terakhirnya kepada suaminya tercinta dan juga anak kesayangannya semata wayang untuk dicatat oleh adeknya. Dia menyiapkan semua daftar2 pakaian yang harus digunakan pada kematiannya, dan barang2 yang harus dimasukkan kepada petinya untuk ikut bersama2 dia, seperti sepatunya bahkan payung kesayangannya. Setelah semuanya sudah selesai, beliau meminta memanggil pendeta untuk melakukan perjamuan kudus terakhir buatnya. Dan setelah itu, kondisinya langsung menurun drasitis yang memaksa rumah sakit harus memasukkan beliau ke ruang ICU sampai pada kematiannya.

Secara langsung saya tidak ada komunikasi beberapa waktu ini dengan saudaraku Robert Naibaho, tapi dari cerita dan kesaksian Tulang Nestor Rico Tambunan, dalam pertumuan mereka sampai 4 kali seakan-akan telah menyampaikan pesan-pesan terakhir beliau tentang keluarga, perusahaannya dan pertemanannya.
Selamat Jalan sahabat-sahabatku dan Namboruku tersayang, Terima kasih kepada Tuhan yang telah membimbing dan menganugerahkan hati dan pikiran yang terang kepada kalian untuk mempersiapkan diri pada hari terakhir kalian sebelum bersama-sama dengan Tuhan di surga. Semoga kami yang ditinggalkan ini, diberi kesempatan untuk mempersiapkan diri, seperti kalian mempersiapkan diri untuk menghadap kepada yang Pencipta dan pengasih

Bogor, 24 September 2011

Jumat, 23 September 2011

Kebaktian Inkulturasi HKBP Bogor, Juli 2011

Sekitar akhir tahun 80-an saya pernah membaca bukunya Pdt Pensilwilly yang berisi partitur2 Koor dan lagu2 responsoria yang digunakan dalam kebaktian perayaan Jubileum HKBP dalam konsep musik etnis Batak dgn Gondang Batak. Buku tersebut sangat lengkap sekali mencakup semua aspek prosesi/liturgi kebaktian di HKBP mulai dari Votum sampai dengan Pasahat Pelean dan Pasu-pasu. Bukan hanya itu, juga dilengkapi dengan liturgis maminta gondang disetiap segmen dari liturgi tersebut. Beberapa tahun yang lalu, konsep ini saya saksikan melalui Televisi Indosiar yang dilakukan oleh Gereja Katolik Pangururan pada Jumat Agung yang katanya (?) disiarkan ke seluruh dunia dalam rangka paskah. Sejak membaca bukunya Pdt Pensilwilly, saya bermimpi suatu saat dapat melakukan kegiatan seperti itu dalam sebuah gereja lokal di mana saya berada. Sekitar 5 tahun yang lalu, keinginan tersebut kembali terusik, ketika saya ngobrol-ngobrol di halaman gereja kami dengan seorang Natua-tua jemaat kami Amang Gultom, yang juga pemerhati adat Batak dan Habatahon. Dan hampir setiap kali kami bertemu, hal ini selalu disinggung beliau memberikan semangat agar konsep acara seperti itu dapat dilaksanakan suatu saat di gereja kami. Ketika Tahun lalu gereja kami merayakan ulangtahun ke 89, setelah resmi hari lahir gereja kami ditetapkan oleh Pimpinan Pusat HKBP, beliau sangat ngotot sekali untuk mengajukan ide tersebut dilaksanakan di gereja kami, tapi sayang panitia saat itu kurang berminat.
Tadi malam, 16 Juli 2011, mimpi tersebut menjadi kenyataan, kami dapat menguwujudkan acara tersebut dalam suatu konsep yang sangat sederhana inkulturasi budaya batak dalam kebaktian di gereja. Sebenarnya ide untuk mengadakan acara ini boleh dikatakan hanya terjadi dalam yang sangat singkat. Ketika kami mengundang Martogi Sitohang hadir dalam acara malam dana Pembangunan Rumah Gereja, pada tanggal 25 juni 2011. Setelah menyaksikan beberapa penampilan Martogi Sitohang membawakan beberapa lagu-lagu rohani, Amang Pendeta kami melemparkan gagasan untuk membuat sebuah kebaktian Inkulturasi dalam budaya Batak berkolaborasi dengan Martogi. Keinginan ini langsung direspons oleh Amang DR DJ Lubis dan mencoba menyusun liturgis kebaktian Inkulturasi dengan Konsep "150 Tahun Kekristenan di tano Batak, mamboan Hatiuron dohot Barita Nauli". Konsep ini dituangkan dalam 3 aspek pelayanan gereja, Marturia, Diakonia dan Koinonia.

Setelah konsep dasar selesai, timbul pertanyaan "aspek apa dari budaya batak yang akan diadaptasi dalam prosesi kebaktian tersebut, agar layak disebut inkulturasi ?". Apakah dengan memasukkan alat-alat musik batak (uning-uningan) mengiringi lagu-lagu kebaktian sudah layak disebutkan inkulturasi? Keterbatasan pengetahuan tentang Gondang batak dan Budaya Batak secara umum menjadi masalah besar, dan cenderung untuk pasrah saja pada tahap memasukkan uning-uningan batak mengiringi kebaktian gereja.
Keragu-raguan muncul dari ketidak yakinan penerimaan banyak orang akan uning2an Batak dapat dipakai dalam pemujian kepada Tuhan, karena banyaknya anggapan bahwa uning2an adalah untuk menyampaikan doa-doa kepada "Mulajadi Nabolon", yang menurut anggapan banyak pihak adalah "hasipelebeguon. Salah satu unsur penting dalam budaya Batak adalah kehati-hatian dalam menggunakan (mamalu) gondang. Mengundang secara formal gondang batak dalam sebuah acara haruslah didahului dengan "Tua ni Gondang", sebagai alasan dari si empunya acara dalam memanggil gondang dalam acara tersebut. Sementara content dari Tua ni Gondang secara original harus mencakup 3 aspek antara lain: Alu-alu tu Mulajadi Nabolon, Alu-alu tu Sahala/Sumangot ni Ompunta sijolo-jolo tubu, dohot tu Amanta raja, inanta soripada naliat na lolo, yang pasti akan memunculkan kontroversi kalau dilakukan di dalam gereja. Terima kasih kepada Mr Google, saya sempatkan membaca tulisan Teologia Tortor dan Gondang di Blog Amang Pdt Adven Leonard Nababan, yang kemudian saya copi paste menjadi Tua ni Gondang dalam buku acara/Liturgi yang kami siapkan dengan tetap menyampaikan alu2 kepada 3 aspek yakni...Kepada Debata Ama, Anakna Tuhan Jesus Kristus dan Tondi Porbadia (Tritunggal). Tadinya saya berfikir, akan memilih salah seorang natua-tua raja parhata sebagai Parhata untuk maminta Tua Ni Gondang, lengkap dengan ulos Batak dan assesories lainnya. Akan tetapi keraguan kembali muncul, apabila hal itu dilakukan akan menimbulkan kontroversi di jemaat. Beruntung Amang Pdt Resort kami bersedia sebagai Parhata yang maminta Tua ni Gondang dari Langgatan lengkap dengan ulos Batak.


Tua ni Gondang oleh Pendeta Resort sebagai bagian dari Liturgi
Borasni sibuluan dihunti Sianturi, didongani Siborutorop, bahen indahan ni angka
raja. Horas-horas ma uluan, songon ipanuturi, nang situan na torop, bahen sangap di Debata.
Saratus lima pulu taon na salpu, dipungka ma panghobasion mamaritahon barita haluaon tu halak Batak. Dijangkon ompungta do barita na uli i. Ala naung dijangkon Bangso Batak barita nauli, nunga tardok tu Bangso Batak, “marga na pinillit do hamu, hamalimon na Raja, bangso nabadia, houm na ginongomanNa, asa tung dibaritahon hamu denggan ni harohanon ni Ibana, naung manjou hamu sian na holom tu hatiuron haholongan i” (I Petrus :9)
Nuaeng pe Amang pande nami, Pardoal pargonsi, nialap manogot, tinaruhon botari, nunga marpungu hami di bagas joro on, ruas ni Tuhanta,marlas ni roha, marria-ria jala marolop-olop manghalashon pasu-pasu ni Tuhanta Debata tu bangsonta Bangso Batak. Ibana do bonana Ibana do ujungna,Parjolo jala Parpudi.
Antong pasahat ma alu-alu nami:
Alu-aluhon ma jolo tu Debata Ama, na manompa langit dohot tano on, dohot nasa isina, ima TUHAN JAHOWA, Ama na hutanda hami di bagasan goarni AnakNa Jesus Kristus. (manghuling taganing).
Alu-aluhon ma tu Tuhan Jesus Kristus, Anak ni Debata na sasada i, na paluahon hami sian dosa dohot hamatean marhite mudarNa na badia i (manghuling taganing)
Alu-aluhon ma tu Tondi Porbadia na ruar sianAma i dohot sian AnakNa Tuhan Jesus Kristus, na pajongjong huria na badia i. (manghuling taganing).
Nunga rade hami nuaeng laho mamuji Debata marhite uning-uningan. Dimula na I nungga adong hatai, jala saor tu Debata doHata i. Antong, baen hamu ma gondang mula-mulai, ala marmula do na denggan, marmula do nauli, jala Debata do mula ni saluthutna. Laos padomu hamu ma tu gondang somba I, ai Debata do sisombaon jala sipujion ni saluhut, parholongroha jala paruhum natigor. Eme sitambatua ma parlinggoman ni Siborok, Debata do
siboantua sude ma hita on diparorot. (sude ruas manortor)
Beruntung kami mendapat dukungan dari Pendeta yang bertugas pada malam itu, yang secara spontan memperkaya acara yang kami siapkan sehingga pada setiap lagu2 yang akan dibawakan, Pendeta yang membawakan agenda selalu maminta gondang sebelum menyanyikan lagu2 pujian. Masuknya bagian Tua ni Gondang sebagai pembuka kebaktian, kami jaga sebagai titik awal dari kebaktian inkulturasi dengan memasukkan Lagu "Lihatlah sekelilingmu (Kidung Jemaat 428)" yang diiringi dengan seruling yang begitu indah dari Martogi Sitohang sebagai pengiring prosesi para pendeta dan parhalado memasuki ruang gereja. Kemudian pada Gondang Mula-mula dan Gondang Somba, seluruh jemaat manortor di tempat masing-masing.
Setelah acara manortor dengan Gondang Mula-mula, anak-anak Sekolah Minggu kemudian maju manortor mewakili tortor na marliat, yang diiringi dengan lagu "Arbab"


Tortor Sekolah Minggu
Yang cukup menggetarkan seluruh jemaat malam itu adalah pada bagian pengampunan dosa. Sebagai mana lazimnya pada bagian ini, seluruh jemaat diberikan jeda untuk merenungkan dosa-dosanya. Martogi Sitohang mengisi bagian jeda tersebut dengan tiupan seruling yang begitu lembut dan lirih dengan membawakan lagu BE No. 173 "Sai Mulak". Didominasi oleh duet Suling Sopran dan Alto, sayup-sayup terdengar desiran Sarune lagu "Sai Mulak" benar-benar membawa kita harus "mulak" dari dosa-dosa kita.
Kemudian, pada bagian Persembahan, prosesi penyerahan persembahan kami modifikasi. Pengumpulan persembahan diiringi dengan gondang sabangunan dengan lagu "Dison hubuan Tuhan". Akan tetapi setelah semua persembahan terkumpul, para sintua yang mengumpulkan persembahan tidak langsung memberikan persembahan ke altar, tapi menunggu di 3 titik pintu gereja kami. Pareses yang berkotbah malam itu kemudian menyampaikan huasi dari persembahan dan mengajak semua ruas untuk berdiri dan manortor untuk bersama-sama menyampaikan pelean kepada Tuhan. Semua sintua yang pada malam itu berpakaian lengkap dengan ulos Batak, kemudian dengan membawa persembahan yng dikumpulkan masing2 manortorhon persembahan tsb untuk diserahkan kepada altar, sementara Pendeta Parjamita dan Paragenda manortor di langgatan menerima perrsembahan dari Sintua.
Manortor dalam Penyerahan persembahan
Sebelum acara ini kami mulai, kami bertekad menjaga bahwa acara pada malam tersebut bukanlah untuk pertunjukan, akan tetapi benar2 adalah untuk kebaktian. Kelompok Martogi Sitohang adalah bagian dari prosesi kebaktian, sebagai mana dengan Pendeta, parhalado dan semua petugas malam itu.
Dari beberapa SMS dan BBM yang kami terima dari beberapa teman yang hadir malam itu, kami cukup berbahagia mendapat tanggapan yang cukup baik atas acara tersebut, dan cukup menjanjikan bahwa memasukkan unsur budaya batak dalam liturgi kebaktian HKBP dapat diterima oleh komunitas jemaat kristen batak di Bogor. Mudah-mudahan dikemudian hari kami dapat melaksanakan acara yang sama. Kalau pada malam tadi kami masih dibantu oleh Lae Martogi Sitohang, mudah-mudahan gereja kami berminat untuk memiliki seperangkat alat musik uning-uningan sendiri yang akan dimainkan oleh anak-anak kami, sehingga kebaktian alternative inkulturasi budaya batak dapat kami jalankan secara regular sebagai bagian dari visi gereja HKBP yang dialogis. Ketika HKBP mencoba beridalog dengan budaya setempat, akan menjadi sangat baik apabila mampu berdialog dengan akar budaya manusia2 HKBP itu sendiri.

Rabu, 13 Februari 2008

Aku akan menggendongmu sampai tua

Sebuah renungan yang menarik (ketemu di Internet)

Pada hari pernikahanku, aku membopong istriku. Mobil pengantinberhenti didepan flat kami yang cuma berkamar satu. Sahabat-sahabatku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami. Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat bahagia.Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu. Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening. Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap pagi kami berangkat kerja bersama-sama dan sampai di rumah juga pada waktu yang bersamaan. Anak kami sedang belajar diluar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yang tidak kusangka-sangka. Dew hadir dalam kehidupanku. Waktu itu adalah hari yang cerah. Aku berdiri di balkon dengan Dew yang sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartment yang kubelikan untuknya. Dew berkata ,"Kamu adalah jenis pria terbaik yang menarik para gadis." Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru menikah, istriku pernah berkata, "Pria sepertimu, begitu sukses, akan menjadi sangat menarik bagi para gadis. "Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu- ragu.. Aku tahu kalo aku telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya. Aku melepaskan tangan Dew dan berkata, "Kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?. Aku ada sedikit urusan dikantor" Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya. Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun, aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku jelaskan, ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya,ia adalah seorang istri yang baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai di depan TV. Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama-sama. Atau aku akan menghidupkan komputer, membayangkan tubuh Dew. Ini adalah hiburan bagiku. Suatu hari aku berbicara dalam guyon, "Seandainya kita bercerai, apayang akan kau lakukan? " Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yang sangat jauh darinya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius. Ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar dari ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengan ia. Ia kelihatan sedikit kecurigaan. Ia berusaha tersenyum padabawahan-bawahanku. Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya. Sekali lagi, Dew berkata padaku," He Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu kita akan hidup bersama." Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak bolehragu-ragu lagi. Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, kupegang tangannya,"Ada sesuatu yang harus kukatakan" Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya.Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalo aku terus berpikir. "Aku ingin bercerai ", ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang. Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata-kataku, tapi ia bertanya secaralembut, "kenapa?" "Aku serius." Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,"Kamu bukan laki- laki!".Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis. Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yang telah terjadi dengan perkawinan kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi oleh Dew. Dengan perasaan yang amat bersalah, Aku menuliskan surat perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian.. Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yang telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yang asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yangtelah kuucapkan. Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku, dimana hal tersebut tidak pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku. Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh-sungguh telah terjadi. Pada larut malam,aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali. Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya. Ia tidak menginginkan apapun dariku, tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya, dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya. Alasannya sangat sederhana: Anak kami akan segera menyelesaikan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami. Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya," He Ning, apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada haripernikahan kita?" Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku. Aku mengangguk dan mengiyakan. "Kamu membopongku dilenganmu", katanya,"Jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar darikamar tidur ke pintu."Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yang telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis. Aku memberitahukan Dew soal syarat- syaratperceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak adagunanya. "Bagaimanapun trik yang ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini," ia mencemooh.Kata-katanya membuatku merasa tidak enak. Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. Kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk punggung kami,"Wah, papa membopong mama, mesra sekali" Kata-katanya membuatku merasa sakit.. Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut," Mari kitamulai hari ini, jangan memberitahukan pada anak kita." Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang. Aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor. Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah didadaku, kami begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi di bajunya. Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya. Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, "Kebun diluar sedang dibongkar, hati-hati kalau kamu lewat sana. "Hari keempat, ketika aku membangunkannya, aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku. Bayangan Dew menjadi samar. Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti, dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yang telah ia setrika, aku harus hati-hati saat memasak,dll. Aku mengangguk. Perasaan kedekatan terasa semakin erat. Aku tidak memberitahu Dew tentang ini. Aku merasa begitu ringan membopongnya. Berharap setiap hari pergi kekantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya,"Kelihatannya tidaklah sulit membopongmu sekarang" Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yang cocok. Lalu ia melihat, "Semua pakaianku kebesaran". Aku tersenyum. Tapi tiba-tiba aku menyadarinya sebab ia semakin kurus itu sebabnya aku bias membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi, aku merasakan perasaan sakit Tanpa sadar ku sentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut."Pa,sudah waktunya membopong mama keluar" Baginya,melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yang penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia di lenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras.Tangannya memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi iakelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih. Pada hari terakhir, ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata,"Sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua". Aku memeluknya dengan kuat dan berkata "Antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra". Aku melompat turun darimobil tanpa Sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga. Dew membuka pintu. Aku berkata padanya," Maaf Dew, Aku tidak ingin bercerai. Aku serius". Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku. "Kamu tidak demam". Kutepiskan tanganya dari dahiku "Maaf, Dew, Aku Cuma bisa bilang maaf padamu, Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari kehidupan, bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi. Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu" Dew tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak. Akumenuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewatisebuah took bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku. Penjual bertanya apa yang mesti ia tulis dalam kartu ucapan?Aku tersenyum, dan menulis " Aku akan membopongmu setiap pagi sampaikita tua..."

Ale Amanami na di Tarutung

Posting ini ingin mengajak kita agar selalu membiasakan diri untuk berdoa, karena kalau tidak, saya takut anda akan mengalami nasib naas seperti di bawah ini.
Seperti kebiasaan Orang Batak - yang Kristen, penutupan akhir tahun biasanya setiap keluarga mengadakan kebaktian pengucapan syukur atas segala berkat yang telah diterima di tahun sebelumnya dan mohon penyertaan Tuhan untuk menjalani tahun yang baru yang akan datang. Dan memang sudah semestinyalah seperti itu.
Sekitar tahun 80-an, ketika masih menjadi mahasiswa dan tinggal di kost-kostan, kami beberapa teman yang tidak dapat pulang untuk merayakan tahun baru dengan keluarga kumpul di salah satu keluarga untuk berdoa bersama mengakhiri tahun tersebut. Kebetulan orang tua yang punya rumah berkesempatan merayakan tahun baru dengan anaknya yang punya rumah tersebut dan istri mantan Guru Huria pula. Jadilah kebaktian akhir tahun kami menjadi lebih hikmat dan serius, dipimpin oleh Inang Ny. Mantan Guru Huria tersebut. Semua yang hadir dalam acara tersebut diwajibkan untuk berdoa satu persatu. Tentunya setiap orang mendoakan dirinya sendiri terutama orang tuanya yang jauh dari mereka, ada yang di Siborong-borong, Sipultak, Balige, Tarutung, dan kampung-kampung lain di bona pasogit. Kebakitan sungguh berlangsung hikmat, bahkan ketika berdoa ada yang sampai menitikkan airmata - barangkali sedih tidak tahun baruan bersama dengan keluarganya, dan ada juga yang lucu-lucu, terutama teman-teman yang tidak terbiasa berdoa atau mungkin hanya bisa berdoa secara template "ya Tuhan berkatilah makanan ini - Amen".
Giliran pada salah satu teman yang berasal dari Tarutung, yang sudah sangat stress menunggu gilirannya untuk berdoa. Barangkali sepanjang acara kebaktian tersebut si teman kita ini sudah menghapal bagian-bagian yang akan didoakan seperti yang didoakan oleh teman-teman yang lain. Bahkan mulai berusaha untuk tidak mendapat giliran dengan cara mengganggu anak sipunya rumah supaya ada alasan untuk keluar dari gilirannya. Akan tetapi Inang kita yang baik hati itu tidak memberikan kesempatan baginya untuk lari dari antrian. "ehhh.....unang lao ho......satongkin nai ho nama.......", kata si Inang kita yang baik ini. Merasa tidak ada jalan keluar,teman kita ini mulai keringat dingin, dan pada gilirannya dia tidak bisa lari lagi dan mulai berdoa........ "Bapak kami yang di Tarutung....................("Ale Amanami na di Tarutung.................")

Pasomal ma Martangiang

Posting ini ingin mengajak kita agar selalu membiasakan diri untuk berdoa, karena kalau tidak saya takut anda akan