Mangongkal holi, Oleh: Saut Poltak Tambunan
Torsatorsa marhata Batak, taringot tu halak Batak, huta ni halak Batak,
ngolu/adat dohot hasomalan ni halak Batak
Dibawakan dalam bahasa
Batak dalam diskusi Kumpulan Cerpen berbahasa Batak, pada 10 Maret 2012.
1 Patujolo
Saya terkejut
sekali ketika saya menerima pesan singkat dari Tulang Saut Poltak Tambunan yang
meminta saya untuk salah satu Pembahas dalam diskusi Kumcer Mangongkal Holi.
Latar belakang saya boleh dikatakan sangatlah jauh dari karya-karya sastra,
apalagi layak disebut sebagai pencinta seni sastra. Kalau pun ada bertumpuk
Novel-novel di rak Buku keluarga kami, janganlah berprasangka bahwa saya pernah
menyentuh itu. Buku-buku itu adalah milik Istri saya, yang memang seorang “kutu
buku”, dan pemburu bacaan karya sastra, dan seringkali berpinjam buku dan lupa
tak dikembalikan dengan adek saya Elkana Lumbantoruan.
Dengan dasar
tersebut, saya benar-benar “stress” membaca pesan singkat Tulang SPT, apalagi
mengetahui bahwa teman saya sebagai pembahas adalah figure Batak Keren sejuta
fans “Suhunan Situmorang”, membuat maag saya kumat sejak menerima SMS tersebut.
Tetapi saya tetap memberanikan diri untuk menerima tantangan tersebut, sebagai
bentuk penghargaan saya atas susah payah dan dedikasi SPT untuk merelease
sebuah karya sastra dalam bahasa batak, bukan hanya karana buku ini merupakan
Kumpulan Cerpen Pertama yang ditulis dalam bahasa batak, akan tetapi juga
perjuangan beliau untuk mengusahakan rampungnya karya tersebut, dari penulisan,
penerbitan sampai dengan pendistribusian buku tersebut dengan usaha sendiri.
Saya berfikir,
kalau SPT menulis cerpen, Novel atau bentuk karya sastra lain dalam bahasa
Indonesia, atau bahasa Inggris, pasti biasa-biasa saja. Toh hal tersebut sudah
dilakukannya lebih dari 40 tahun dengan puluhan buku2 yang telah menjadi best
seller dikalangan penggemarnya. Tapi menulis karya sastra dalam bahasa Batak,
adalah sebuah usaha yang luar biasa. Saya mendorong diri saya sendiri untuk
merasakan hal tersebut, dengan tekad membuat pembahasan dalam bahasa batak.
Berhubung saya bukan seorang penulis yang baik, saya mohon ijin kepada Tulang
SPT untuk menyajikan bahasan saya dalam bentuk slide presentation. Dan hal itu merupakan tantangan tersendiri
untuk membuat bahan presentasi dalam bahasa Batak.
Berikut ini adalah
rangkuman pembahasan saya yang saya bawakan, barangkali berguna untuk mengenal
lebih jauh KumCer Mangongkal Holi.
Pembahasan ini saya
kelompokkan dalam 3 bagian pembahasan, yakni;
-
Tinorsahon ni Mangongkal Holi, dan
-
Tinonahon ni Mangongkal Holi
-
Panimpuli – Tona ni natuatua
2 Tinorsahon ni Mangongkal Holi
Menurut saya,
KumCer Mangongkal Holi secara garis besar menceritakan tentang Batak meliputi;
·
Hata Batak
·
Halak Batak
·
Huta ni Halak Batak
·
Ngolu, Hasomalan dohot Adat ni Halak Batak
2.1 hata batak
2.1.1 Dituliskan dalam Bahasa Batak Sehari – hari (“Hata Batak na hinatahon ni halak Batak siganup ari”)
Mangongkal
holi dituliskan dalam bahasa Batak sehari-hari yang digunakan oleh orang Batak
– “hata
na hinatahon ni halak Batak siganup ari”, atau dengan kata lain,
ditulis dalam bahasa Batak yang dimengerti oleh kebanyakan orang Batak, bukan
dalam bahasa Batak yang dipaksakan harus “hata batak”. SPT berusaha keras, agar
emosi dan suasana dalam tulisan tersebut tetap dalam nuasa apa adanya perlilaku
tokoh-tokoh dalam cerita tersebut, dan menyentuh para pembacanya dalam tahap
yang paling standard, tanpa perlu harus mengernyitkan dahi untuk mencari kamus
Bahasa Batak dalam mengartikan kata demi kata. Sehingga pembacanya benar-benar
“berbahasa Batak” layaknya bertemu dengan teman, keluarga atau sedang ngobrol di
warung kopi (lapo). Hata Batak tersebut sangat akomodatif terhadap
bahasa-bahasa “keseharian” atau “gado-godo” dari bahasa Batak, Bahasa Indonesia
atau Bahasa Asing lainnya, ketika sulit dicarikan padanannya dalam bahasa batak
baku yang lazim didengar dalam percakapan sehari-hari. Seandainya SPT
memaksakan buku ini harus “marhata Batak’, saya khawatir buku ini menjadi tidak
menarik untuk dibaca.
Beberapa kutipan
dari buku tersebut antara lain:
-
“mulahulak do diarsakhon ibana “peristiwa” mahasiswa Trisakti……..”korban” Tsunami….”Sae Dodak. Hal 47
-
…….”laos sian Medan ma di-”sewa” motor barang …….”Meja Makan, hal 65”
-
“Ndang na porsea ahu nian, alai na gabe “hempot”…………..”Lali
Panggora, hal 81”
-
“Mangkuling “telepon genggamhu”,…… “hona
serangan jantung”…”ai tarbayang Bang
Tagor disi”…….Lali Panggora, hal 81,82”
-
“Aut sugari ahu manggadis manang manggadehon prinsip, manjehehon angka
donganhu, dapot ahu do ulaon dohot jabatan
na humebat sian si Todung I”…. Lanteung, hal 92
-
Mansai takzim
huida……..Omak, hal 112
-
“Sogot manogot huida Inang manutung sampa…..Huta nami di Bona ni Dolok
(Hal, 128)
2.1.2 Ditulis dalam Bahasa Batak yang taat pada penulisan Hata Batak dan Struktur Kalimat Bahasa Batak –(“Sinurathon ni Pande Panurat na hot diruhutruhut ni pangguriton dohot struktur hata Batak”)
Dalam penulisan
hata Batak yang digunakan dalam Kumcer Mangongkal Holi, SPT sangat berusaha
sekali untuk tunduk pada aturan-aturan baku penulisan dan struktur berbahasa
Batak, seperti;
Penulisan Kata berulang
Struktur kalimat
berbahasa batak: Mulahulak, torsatorsa, marudutudut. saringsaring
Struktur kalimat
berbahasa Indonesia: Mulak-ulak, Torsa-torsa, marudut-udut, saring-saring
Penulisan Menyatakan tempat
Struktur kalimat
berbahasa Batak; disi ( “di” sebagai kata depan)
Struktur kalimat berbahasa
Indonesia: di si
Disamping itu,
dalam bahasa Batak terdapat kata-kata yang berbeda penulisan dan pengucapannya,
seperti;
Dituliskan
“Tadinghon”, di baca “Tadikkon”
Dituliskan
“Tingki”, di baca “Tikki”
Dituliskan “angka”
dibaca “akka”, dst.
2.2 halak batak
2.2.1 Alami
Kumcer Mangongkal
Holi menceritakan tentang orang Batak secara natural, apa adanya, mulai dari orang
Batak yang sudah menikmati kemajuan, yang menang, yang kalah, yang terlindas
oleh kemajuan, yang gila (pesong) sampai kepada Halak Batak yang masih percaya
pada dukun dan tahyul
Beberapa petikan
tulisan dalam Kumcer Mangongkal Holi yang menggambarkan tentang hal tersebut,
antara lain;
Yang menang……………
-
Benny
…………………………..”Mangongkal Holi” (Hal, 1)
-
Martua (si Anggota) …………….. ”Meja Makan” (Hal, 53)
-
Todung…………………………... ”Lanteung” (Hal, 85)
-
Mongga…………………………...”Mardame di Bot ni Ari” (Hal. 143)
Yang Kalah……………
-
Nai Marsella…………………..”Unang Tinggalhon hami Jonggi”
-
“Ahu”…………………………”Sae Dodak”
-
“Among”, “Ahu”……………...”Lanteung”
Yang terlindas oleh kemajuan ……………
-
“Hutanami di Bona ni Dolok”
Yang gila…………….
-
Si Pesong……………………”Sae Dodak”
Yang percaya akan dukun dan “Lali Panggora”
-
“Mangongkal Holi”
-
“Lali Panggora”
2.2.2 Orang Batak yang menatap kepada Kemajuan dan Kemenangan
Sudah menjadi
karakter orisinil Halak Batak yang selalu berambisi untuk mengejar kemajuan,
dan kemenangan, yang mungkin merupakan bagian filosifis kehidupan Halak Batak
untuk mengejar Hasangapon. SPT dalam KumCer ini sangat baik memetik ujar-ujar
orang Batak yang menggambarkan ambisi dan pengajaran tentang hal tersebut,
seperti pada petikan berikut:
-
“… …marhua ho mangaranto tu Jakarta ianggo
tong do losung pinungka ni daompung mon gulutonmu”…. Sae Dodak, hal 44
-
“Ai na dirimpu ho do angka siotooto molo
parhutahuta? Lam loak ho huida. Haru manuk sitalutalu ndang adong ingananna di
huta on”…..Lanteung, hal 90
-
“Alai ummarga do di ahu horbo na marniang
bangkirison unang ianakhon na mulak balging luangan sian pangarantoan”..................Huta
nami di Bona ni Dolok, hal 115
2.2.3 Orang Batak, merindukan Anak Laki-laki
Sudah jamak
mendengarkan bahwa Halak Batak sangat merindukan anak laki-laki sebagai “si
junjung goar” atau penerus dari sebuah keluarga.
“Aut sugari baoa ahu nian……aut unang boruboru”…..
Mardame di Bot ni Ari, hal 142
2.2.4 Orang Batak: Among, Inong, Pardijabu, Namarhahaanggi
Secara spesifik
Kumcer Mangongkal Holi juga menggambarkan karakter pribadi-pribadi orang Batak
seperti Among(Bapa), Inong (Ibu), Pardijabu (Istri) dan Kakak beradik
(Namarhahaanggi)
Among.
Bagi orang Batak
yang lahir dan besar di Tanah Batak pada periode sebelum tahun 1975, barangkali
akan segera meng’ya”kan karakter Among yang digambarkan dalam Kumcer Mangongkal
Holi tersebut, antara lain:
-
Sigurudok………..Lanteung
(Hal, 83)
-
Siparrohabatu,
siparhatasada…Lanteung (Hal, 96)
-
Sijogal
roha, Si Kapala Batu……Mardame di Bot ni ari (Hal 134)
-
Parmuruk
jala parrimas na so haombunan …Paima Mata ni ari Binsar, (Hal 153)
-
Si sobur
tuak jala Parpollung di lapo manipat ari
-
Lali Panggora…..(hal 72)
-
Lanteung ……(hal, 86,88)
-
Hira ganup borngin do Damang tuahon…..Paima Mata
Ari Binsar, hal 154
-
Girgir
paleashon anakhon na:
-
Sate Soto – mate na oto,. Madabu tulpang tu
gambo, mardomu rupa tu pangalaho …Lanteung (Hal. 88)
-
“Naung mangungu do ho, Lanteung!? …Lanteung
(hal, 88)
-
Lapungkiap……………..Hutanami di Bona ni Dolok (Hal,
124)
-
Paijo…………….Mardame di Bot ni Ari
-
Sumber inspirasi
di anakhonna
-
“Ala anakmu do ahu, Among!, anak ni jolma siparroha
batu, siparhatasada. Alai dipaturun Among do mudar na so tau marjehe tu ahu.
Rap rara do mudarta, Among”….Lanteung, hal 96
-
Alai holip, balga do tong rohana. Ai dang piga
be jolma na sai ojak marsihohot hadirionna songon amana I………..Mardame di Bot ni
ari, Hal 145.
-
Pejuang di
angka ianakhonna
-
“Pogos do ahu Amangmu. Ho do Panggoaranku. Ho ma
si pungkaparik di hita, sipungkadalan….Andul umbalga rohangku paborhat ianakhonhu
tu na dao pature ari sogot………Hutanami di Bona ni Dolok, hal 115.
-
Ojak marsihohot
di hadirionna (Penuh integritas)
-
Ndang tartuhor halak ahu…….Lanteung, hal 95
-
Marga I dang gelar, dang silehonlehon……..Mardame
di Bot ni Ari, hal 145
-
Sangap di
anakhonna
-
…….alai tung dipasuda tangisna do gogo ni si Mongga.
Sai dilangehon huhut tumatangis hinorhon ni las ni rohana……..Mardame di Bot ni ari
Hal, 151
-
…..asa dilehon partingkian parpudi du Damang marnida
si Paian mulak……..Paima Mata Ari Binsar, hal 167
-
Demokratis
-
Panghataion ni “Ahu” dohot “Among” ………………Lanteung,
hal 88 – 96
Inong – Parholaong roha nasohasuhatan
Barangkali tidak
aneh kalau mayoritas orang Batak, terutama laki-laki (?) adalah parroha Inong!.
Dan hal ini mungkin juga terdorong oleh keseharian Tulang SPT mewakili Halak
Batak yang mempunyai perasaan yang sama terhadap figure Inong, seperti yang kita
baca dalam bagian cerita:
-
Unang tadinghon hami Jonggi………..hal 32
-
“Sabam do tutu Inang,. Sip ibana huhut diapusi iluna….Lanteung,
hal 90
-
”Bah!, Saut!”, hubege soara ni Inang mangangguk
……Hutanami di Bona ni Dolok, hal 123
-
…..Padiar ma, unang pola anturehon hata ni Amang
I ……Mardame di Bot ni Ari, hal 134
Dalam bagian cerita
Lanteung, cukup menarik SPT menggambarkan bagaimana posisi seorang istri dalam
Keluarga orang Batak, baik terhadap suami (Among) dan anak-anaknya. Cukup
menarik sebenarnya menyimak hal ini, yang bisa kita tafsirkan dalam berbagai macam
presepsi baik secara negative maupun positif. Akan tetapi, dalam segala aspek
perlakukan Among kepada Inong dalam keluarga Batak, Inong selalu menjaga
dirinya untuk tidak melawan Among dihadapan anak-anaknya, keluarga maupun di
tengah keluarga atau adat. Inong memang merupakan figur yang sangat istimewa bagi
orang Batak, beliau adalah malaikat penuh kasih yang turun ke dunia bagi
anak-anaknya.
Pardijabu yang Bijaksana
Terlepas dari
praduga politicking istri si Anggota (dalam “Meja Makan”), saya melihat bahwa
Mangongkal Holi mencoba menggambarkan bahwa istri Halak Batak adalah figur yang
sangat bijaksana, penasehat setia sang Suami, dan si Paombun roha ni Amanta
ditingki ro arsak ni roha.
-
‘’………….dilehon pardijabu ma di ibana sabungkus indahan
dohot samponggol jahir na niarsik…………. Sae Dodak, hal 42
-
“meja itu memang membawa berkat, tapi agaknya kita
tidak boleh memonopoli berkat…..Meja Makan, hal 67
Kesenjangan antara Tradisionil vs Modern
Di samping menggambarkan
karakter tradisionil Halak Batak, Mangongkal Holi juga mencoba menggambarkan perkembangan
karakter generasi baru Halak Batak dan sudut pandang mereka terhadap nilai-nilai
Habatahon akibat perkembangan zaman yang mereka alami.
-
Namarhahaanggi
-
Mangongkal Holi
Cerita ini
menggambarkan kesenjangan cara pandang antara anggota keluarga yang telah
mengenyam pendidikan lebih tinggi (Modern) dengan saudara-saudaranya yang masih
tinggal di kampung (tradisionil) tentang penghargaan orangtua
-
“………….Alai na mangongkal holi on ma jolo tahaporluhon”
-
“Bah, dia do dalanna umporlu parjabuan ni na
mate sian na mangolu?”………..hal 12
-
Meja Makan
Pada bagian ini
Mangongkal Holi mencoba menggelitik para pembacanya tentang pertentangan sudut
pandang Halak Batak modern yang materialistik dan egois dengan nilai-nilai moral
dan kebersamaan dalam keluarga.
-
…..Gogo ni hauma, porlak dohot na asing…..di hamu
ma I sude,
-
Rap do hita diparmudumudu Damang-Dainang…… lam ganda
ma nian halak …………haseahinorhon ni pangajarion dohot jamita ni panditanta sian langgatan
i…….hal 66
-
Orangtua
vs Anak
-
Mardame di Bot ni Ari
Mongga (“Mardame
di Bot ni Ari”) dengan baik digambarkan mewakili cara pandang Halak Batak
Modern yang ingin me”Margakan” calon suaminya demi pemenuhan pelaksanaan adat
perkawinannya dengan lelaki non Batak. SPT melalui cerita ini mengingatkan
Halak Batak, bahwa Marga bukan Gelar, penerimaan untuk diangkat menjadi orang
Batak mempunyai konsekuensi dan komitment yang harus dijalankan bukan hanya selama
hidup penerima saja, tapi juga oleh semua keturunan yang menerima Marga.
Mardame di Bot ni Ari juga menggambarkan cara pandang halak Batak tradisionil
(Ama Mongga) dalam menyikapi perkawinan anaknya Mongga dengan orang non Batak,
walaupun Mongga merupakan anak perempuan satu-satunya dalam keluarga Ama
Mongga. Kita dapat membayangkan sikap yang akan dilakukan oleh Halak Batak
Modern saat ini, apabila dalam posisi seperti Ama Mongga dengan Anak yang sudah
lulus S2 dan mempunyai kedudukan yang baik dalam pekerjaannya.
2.3 Huta ni halak Batak
Di mana dan seperti apakah Kampungnya Halak Batak?
Mangongkal Holi
mencoba menggambarkan kenyataan tentang Kampungnya orang Batak, antara lain
melalui petikan-petikan berikut:
-
Topi ni
Tao Toba
-
….morot ma bibir ni aek Tao Toba, pola martolupulu
meter…… …..Mangongkal holi, hal 2
-
Di Bona ni Dolok di topi ni Tao Toba, mamolus binanga
na marlegotlegot, dipamatang ni binanga adong dalan ni padati….Hutanami di Bona
ni Dolok…..hal 121-122
-
Angka hau naung ranggason hot dope jongjong humaliang
jabu. Hot dope tio jala menak sisik ni Tao Toba nang pe lam humurang halak martapian
disi……Mardame Bot ni Ari, hal 133
-
Huta na luang
jala tarulang
-
Huta na marbalokhon bulu duri, jojor dua masidompakdompahan,
nunga mansai buruk, burburon, lapuhon ……nunga marumpak ala luang so diingani
be…..Unang Tadinghon Hami, Jonggi, hal 28
-
Wilayah
Toba…..Balige, Laguboti…….
-
Hea masa porang
………..Omak, hal 99
2.4 Adat ni halak Batak
Berikut
petikan-petikan dari Kumcer Mangongkal Holi yang menggambarkan tentang Adat
Batak
-
Mahal - Mansai
Arga, ingkon godang hepeng
-
Dang taralang balga ni hepeng tusi, Angkang…….Mangongkal
holi, hal 11
-
……nantoari nunga satolop manggadis horbona ‘gaja
toba’ I laho tu pesta ni Dahahang……..Sae Dodak, hal 48
-
Marpulupulu juta, ia so marratus do hepeng nisi Anggota
tusi. Pulik dope biaya pesta manang angka na mosok hombar tu ulaon i…..Meja Makan,
hal 59
-
Tidak
Generik – Rumit, semau kita.
-
Angkang, sian nantoari nunga sai galak ateatengku
marnida pangalaho ni angka jolma on. ……..Mangongkal holi, hal 3.
-
Dipimpin
Ama - Diuluhon Ama…..
-
“I do umbahen na hugogohon hami maniopi ho, Hasian.
Unang tinggalhon hami angka na mabalu on…….Unang Tinggalhon Hami, Jonggi, hal
27
-
Hanya
Orang kaya yang pantas melaksanakan adat - Ulaon ni na mora do patupa pesta adat
-
Abang, ianggo ahu – pangaragat tuak, pesta sadari
pe ndang suman. Tung soadong halak mangarehei ahu molo ndang hupatupa ulaon mangonghal
holi jala pajongjong parpandaan naimbaru…..Meja Makan, hal 64
-
“…..ndang ditorsahon ulaon ni Aman ni Hinsa, ulaon
ni Ama ni Jonggang manang ulaon ni Nan Tiher….Ulaon ni si Anggota do ditorsahon
halak…….Meja Makan, hal 64
3 Tona ni Mangongkal holi
3.1 Hata Batak
Saya percaya, latar
belakang SPT mengupayakan penerjemahan karya-karyanya dalam Kumpulan cerita
pendek berbahasa Batak adalah wujud kecintaannya kepada Hata Batak dan
Habatahon. Dan melalui buku ini saya menangkap pesan yang ingin mengatakan “Argahon
ma Hata Batak I, andorang so mate punu sian hasiangan on”. Dalam kenyataan
sehari-hari, hal tersebut dapat dengan mudah kita terima, dengan berbagai
permasalahan yang dihadapi orang Batak dalam mencintai Bahasa Batak, antara
lain disebabkan:
Hata Batak itu Sulit – Maol
-
Asing
Panurathonna dohot Panghataion
Berbeda penulisan
dan pengucapan - “asing panurathonna
dohot panghataion”
Pesan yang ingin
disampaikan oleh Kumcer Mangongkal holi adalah bahwa belajar Hata Batak
(mempertahankan hata Batak), tidak cukup hanya mendengar akan tetapi juga
dengan membaca dan menulis. Hal inilah yang harus dilakukan untuk membiasakan
Halak Batak dengan Hata Batak. Kehadiran Kumcer Mangongkal Holi menjadi
inspirasi bagi para penulis lainnya untuk memperbanyak khasanan karya sastra
dalam Bahasa Batak.
-
Hallang
Sudah sangat
banyak Halak Batak saat ini yang sangat jauh dari pemakaian Hata Batak,
akibatnya baik untuk membaca maupun mengucapkan, apalagi menuliskan membutuhkan
usaha yang ekstra keras. Dalam berbagai aspek, Halak Batak lebih suka untuk
menggunakan Bahasa lain walaupun sesama Batak atau internal Keluarga, kalaupun
menggunakan Hata Batak sudah lebih mudah untuk mencampurkannya dengan kata-kata
dari Bahasa Indonesia atau dari Bahasa Asing lainnya.
Hata Batak itu Aneh
Bagi generasi orang
Batak yang telah lahir di luar Tanah Batak, dan sangat terbatas berinteraksi dengan
Hata Batak - kalaupun ada barangkali
hanya melalui komunikasi verbal atau mendengarkan music - membaca tulisan
berbahasa Batak menjadi Aneh dan sulit dimengerti.
Dituliskan “tingki”, di dengar “tikki”,
etc…….
Hata Batak itu Tidak Penting dan tidak
bernilai Ekonomis
Kenyataan yang
terjadi saat ini adalah makin banyaknya orang Batak yang hidup dalam lingkungan
yang tidak memerlukan Hata Batak. Beberapa pernyataan yang sering muncul antara
lain:
-
“Ah…..ga ngerti….ah. Ngapain belajar hata batak,
ga da guna, toh tidak dipakai juga untuk kerja atau gaul dengan teman-teman”
-
“Ah…toe ma, aha be siguluton sian hata batak I huroha,
ai tong naso mulak be iba tu huta, marhuta jala mangodang diparserahanon nama
sude angka dakdanak on……..”
Tidak ada lembaga yang perduli dengan Hata
Batak
Kecuali
gereja-gereja Batak, tidak ada lagi lembaga formal yang perduli dan mau
menggunakan Hata Batak. Bahkan, fenomena penggunaan berbahasa Indonesia yang
baik dan benar, juga telah mengikis habis penggunaan Bahasa Batak di
Sekolah-sekolah dan lembaga pemerintahan yang ada di Tanah Batak. Mengherankan
sebenarnya menyaksikan fenomena ini, sementara kalau kita menyaksikan
kantor-kantor pemerintahan seperti di Jawa ini, beberapa suku masih
mempertahankan pemakaian Bahasa atau bahkan Tulisan mereka secara formal dalam
pemerintahan daerah setempat.
Contoh:
Pemakaian nama-nama
Jalan di Wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah
Penulisan ujar-ujar
lokal di kantor-kantor Pemerintahan Jawa Barat, Jawa Tengah, dll
Media Massa?,
banyak media massa yang membawa nama-nama Batak atau Tapanuli, tapi tidak
satupun dari media tersebut yang berbahasa Batak, apalagi mampu bertahan lama.
Bandingkan dengan Mangle – majalah berbahasa sunda, yang masih bertahan sampai
sekarang. Lagi-lagi, Lembaga gereja menjadi benteng satu-satunya yang
mempertahankan hata Batak, melalui “Surat Parsaoran Immanuel” yang masih
bertahan sampai sekarang.
Melihat kenyataan
tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa nasib Hata Batak sudah ibarat menunggu kepunahannya
dari alam semesta ini – mate punu sian hasianganon.
3.2 Halak Batak
Setelah membaca
Kumcer Mangongkal Holi, mari kita sejenak untuk berfikir Siapakah yang dimaksud
dengan orang Batak?
-
Yang lahir sebelum tahun 1965 dan dibesarkan di
Tanah Batak ?
-
Natoras na Otoriter jala nasai olo paleashon
ianakhonna?
-
Ianakhon na bangkol manghatai tu natorasna?
-
Na hot diruhutruhut ni adat dohot hasomalan ni
Batak najolo?
-
Tongtong mangaranap di hamajuon?
-
Na pardirgak simajujung, pajingjing hamoraon
diparadaton?
-
Na ojak marsihohot dihadirion, naso olo
manggadis, manggadehon hadirionna, dohot manjehehon angka donganna ?
-
Natongtong pasangaphon natorasna?
Barangkali generasi
yang lahir pra 1965, dan dibesarkan di Tanah Batak adalah generasi inilah
mungkin yang masih merasakan originalitas Habatahon orang Batak yang
sebenarnya. Generasi inilah yang masih mempunyai keterkaitan yang kuat dengan
Hata Batak, Halak Batak, Huta ni Halak Batak dan Ngolu, Hasomalan dan Adat ni
Halak Batak. Sementara, orang-orang Batak yang lahir dan dibesarkan di luar
Tanah Batak, dan tidak mempunyai keterikatan pengalaman hidup secara langsung
dengan hal-hal tersebut akan sangat sulit untuk menggambarkan typical orang
Batak yang sesungguhnya. Kita mungkin dapat membandingkan Habatahon sebuah
keluarga yang secara rutin pulang kampung dengan Habatahon keluarga-keluarga
yang sangat jarang berinteraksi dengan orang Batak apalagi untuk pulang kampung
sekali setahun. Lantas Orang Batak seperti apakah mereka?. Dan bagaimanakah
mereka mencari dan beradaptasi dengan nilai-nilai, hata, karakter, adat orang
Batak? Belum lagi kita mempertanyakan kesalahan-kesalahan elementer yang
dilakukan oleh generasi “Halak Batak Asli” untuk memperkenalkan nilai-nilai
habatahon tersebut dalam referensi yang mereka tidak mengerti, kenal dan
rasakan.
Apakah gambaran
orangtua yang otoriter, yang suka melecehkan anak-anaknya dengan
sebutan-sebutan lanteung, lampunghiap, dan seterusnya merupakan gambaran yang
sah sebagai Bapak dalam keluarga Batak? Lucunya, walaupun banyak orang Batak yang
merasakan pengalaman hubungan antara Bapak dengan Anak seperti itu, sangat sedikit
lelaki orang Batak yang membenci Bapaknya setelah ia dewasa!. Pengalaman buruk
tersebut bukanlah hal yang melekat dalam ingatan psikologis orang Batak, akan
tetapi justru hal-hal seperti Integritas, Akseptabilitas dan ketokohan ditengah
masyarakat adalah hal-hal yang selalu terkenang dan menjadikan Bapak menjadi
Idola bagi lelaki Batak. Walaupun, dalam kehidupan saat ini, tidak banyak lagi
lelaki Batak yang sudah menjadi Bapak menjalankan sikap Otoriter seperti itu. Bahkan,
“ingkau ni Bapa”, “Tes ni Bapa”, ‘Galas ni Bapa”, dan hal-hal lain yang berbau “Bapa”
sudah tidak terdengar lagi saat ini dalam keluarga-keluarga orang Batak.
Mangongkal Holi
mengajak kita untuk merenungkan Orang Batak seperti apakah kita saat ini?
3.3 Huta ni halak Batak
Membaca Kumcer
Mangongkal Holi, mengajak kita untuk merenung sebentar “Di manakah Kampungnya
orang Batak saat ini?”
Apakah Kampungnya
orang Batak salah satu dari keadaan berikut?
-
Tao na mahiang, gutor jala rotak aekna hinorhon ni
limba dohot uap ni Paberik, panangkalan ni angka runta, gok rimarima ni sipanganon
ni dengke sian karamba?
-
Huta na luang, tarulang dohot angka jabu naburburon,
lapuhon, marumpak so dianturehon?
-
Parbandaan niangka na mora, dohot dalan na sap gambo
marbustakbustak di ari udan?
-
Atau malah kita ingin mengatakan, “Kita orang kota
coy, Jakarta is my city”
3.4 Adat ni halak Batak
Secara gamblang
kita dapat menangkan bahwa pesan yang ingin disampaikan oleh Kumcer Mangongkal
holi adalah “Adat nabisuk jala poda nauli do na tinonahon ni Ompunta sijolojolo
tubu, ndang adat tu hamagoan dohot ginjang ni roha”.
Kumcer Mangongkal
Holi menurut saya ingin mengajak orang Batak kembali ke originalitas
nilai-nilai Habatahan tersebut, dengan mempertanyakan hal-hal berikut:
-
Tolong carikan Umpasa, Umpama atau Tona ni
natuatua tentang adat Batak yang mengatakan bahwa:
-
“Na ingkon padirgak simajujung, pajingjing hamoraon
molo patupa adat Batak?
-
“Na rumingkot pauli inganan ni na mate sian
inganan ni namangolu?”
-
“Na ingkon holan na mora boi patupa adat?”
4 Sipahusorhusoron ni roha sian Mangongkal Holi
Dang lelengbe, mate
punu nama tong Habatahon i, ala dang tarargahon:
-
Hata Batak……
-
.”ah, ngak Gaul coy……”
-
Huta ni Halak
Batak…..
-
”Di mana gua idup, disitulah kampung gua, cape amat!…..”
-
Halak Batak………
-
“Orang Batak…..emangnya kenapa?”
-
Adat Batak…….
-
”Rumit, ga ngerti, ngbisin duit….gak penting-penting
amatlah….”
5 Tona ni Natuatua
Dikutip bagian dari
kata sambutan mantan Ephorus HKBP Ds Siahaan almarhum dalam salah satu Buku Adat
Batak “ Ruhut-ruhut Ni Adat Batak”.
Bidang do diranap dao
ditatap di Adat Batak i.
1.
Uli idaon angka tujuanna, naeng maraturan na denggan sude ulaon: masiurupan, masiajaran, masipodaan, masitatapan, masihilalaan.
2.
Naeng maraturan na denggan sude panghataion, pangalaho dohot parange: masiantusan, masihormatan, masipasangapan.
3.
Naeng maraturan na denggan
sude parsaoran: pardongan saripeon, parnatua-tuaon dohot paraniakhonon, parhaha-maranggion,
parsahutaon, parsisolhoton, denggan mar-dongan tubu, marhula-hula, marboru.
4.
Sian najolo, diakui roha ni halak Batak do, naso marguru
dijolma sude namasa diportibi on. Ala ni i dihilala roha nasida do na tergantung
do ngolu nasida sian hagogoon dohot huaso ni angka na so tarida. Ala ni i mabiar
do nasida mangulahon na so uhum, na so adat, mabiar do nasida mangulahon ginjang
ni roha dohot lomo-lomo, sai haserepon do dipodahon dohot diparangehon.
5.
Hape nuaeng (dung tatanda TUHAN), lam godang do taida angka
ginjang ni roha dohot hajahaton, lam so mabiar be mangulahon na so uhum na so adat,
lam so mabiar be mangulahon sogo ni roha ni DEBATA. Lam godang do marguru tu pingkiran
ni jolma sambing halak nuaeng on, ndang manjalo sinondang na sian DEBATA.
6.
Ala ni i, sai paimbaruonta do adatta, asa dohot hita patolhashon
sinondang na sian DEBATA tu hita mamolus zaman na mubamuba. Ringkot angka panorangion
taringot tu adat na denggan dibagasan hata dohot gombaran na niantusan ni halak
di zaman na tabolus.
Bogor, Maret 2012