Kamis, 20 Oktober 2011

Parpadanan Marga Sihombing dengan Marga Situmorang Lumbannahor



Didok songon Umpama ni Situmorang Lumban Nahor :

“Namora Panaluan na Mangalap boru Manurung si Uluan,
Patamba Hagabeonna di-Alap ma muse boru Lumbantoruan”

Perkawinan antara Tambun Mulia br Sihombing Lumbantoruan dengan Namora Panaluan Situmorang Lumbannahor ratusan tahun yang lalu, telah mengikat keturunan kedua marga tersebut dalam suatu "parpadanan (janji) sebagaimana permintaan Tambun Mulia br Sihombing Lumbantoruan kepada Hula-hulanya Marga Sihombing Lumbantoruan, yakni:

  1. "Ingkon sude marga Sihombing Lumbantoruan dohononna Tulang, jala hormatanna" (Semua marga Sihombing Lumbantoruan harus menjadi Tulang dan dihormati oleh semua keturunan Tambun Mulia br Lumbantoruan).  Konsekuensi dari pesan (Tona) ini, semua boru Situmorang Lumbannahor keturuanan Tambun Mulia tidak berkenan disunting oleh laki-laki Marga Sihombing Lumbantoruan. "Hot ma ho tongtong gabe Tulangku" (biarlah kamu selalu Tulang saya). Itulah kata-kata yang lazim disampaikan oleh boru Situmorang Lumbannahor keturunan Tambun Mulia br Lumbantoruan apabila ada lelaki Marga Sihombing yang mau melamar dia. 
  2. "Tung naso boi tulahon ni Marga Sihombing Lumbantoruan, molo ro pinompar ni Tambun Mulia mangalap boru Sihombing Lumbantoruan" (Marga Sihombing Lumbantoruan tidak boleh menolak pinangan keturunan Tambun Mulia br Lumbantoruan yang ingin memperistri salah satu boru Sihombing Lumbantoruan
  3. "Tung naso sihataan Sinamot, sibilangan ulos diulaon adat parsaripeon ni pomparan ni Tambun Mulia dohot boru Sihombing Lumbantoruan. Ingkon marsuhat di ampang do". Tidak boleh menghitung "sinamot" yang akan diberikan oleh Marga Situmorang Lumbannahor keturuanan Tambun Mulia dalam adat perkawinan dengan boru Sihombing Lumbantoruan, demikian juga dengan ulos yang akan diserahkan oleh Marga Sihombing Lumbantoruan harus memenuhi sesuai dengan permintaan Situmorang Lumbannahor. 
 Implementasi "Parpadanan' inilah yang kami lakukan pada tanggal 14 Oktober 2011 dalam pelaksanaan adat perkawinan Septi Muharyati Sihombing, boru dari St. P Sihombing/br Simanjuntak dari Keturunan Ompu Mangadum, Tuan Guru Sinomba (Datugalapang, Hutagurgur) dengan IPDA Dunant Situmorang S.st, anak dari St. J Situmorang (+)/br Siahaan dari Pangkalan Brandan, di Gedung Mayora II - Jakarta. 
Tulisan ini ditujukan sebagai dokumentasi dan acuan pelaksanaan paradaton dengan keturunan Tambun Mulia yang menjadi pelajaran bagi kami kaum muda Marga Sihombing Lumbantoruan. 
Secara umum pelaksanaan adat ini tidak ada yang berbeda dengan pelaksanaan adat-adat perkawinan batak lainnya. Satu hal yang berbeda dan sangat terasa adalah suasana keakraban dan rasa hormat dari pihak Situmorang (paranak) selama berlangsungnya acara tersebut. Dimulai dengan penyerahan "tudu-tudu ni sipanganon" yang menyediakan "Sigagat duhut" dari paranak dan "Dengke Simudur-udur" dari parboru, semua rangkaian pelaksanaan adat masih normal-normal saja.









Kekhususan acara adat ini mulai terasa, pada awal "pangkataion akan dimulai. Dipihak Marga Lumbantoruan, karena ruang lingkup adat ini hanya sampai Keturunan Tuan Guru Sinomba, Ompu Raja Natarus sebagai Bona Hasuhuton, menyerahkan tugas Parsinabul kepada anggidoli Ompu Ni Olom. Dari kesepakatan antara namarhaha-maranggi, Anggidoli Ompu Raja ni Olom menyerahkan agar Raja Parsinabul dalam acara adat tersebut dipilih dari salah satu Pomparan dari Ompu Raja Natarus, dan setelah bertukar-kata, akhirnya Anggidoli Siampudan Ompu Raja Sonar bertindak sebagai Parsinabul pada acara adat tersebut. Berbeda dengan Pihak Situmorang (Paranak), karena cakupan adat tersebut sampai kepada Punguan Tuan Situmorang Sipitu Ama, Namora Panaluan Situmorang Lumbannahor sebagai anak kedua dan Hasuhuton menyerahkan kepada enam kakak-beradik untuk menjadi Raja Parhata (parsinabul) dalam pesta tersebut. Setelah bertukar-kata antar 6 kakak beradik Pomparan Tuan Situmorang Sipitu Ama, mereka menyampaikan, karena ada kekhususan hubungan antara Namora Panaluan (Tambun Mulia) dengan hula-hula Sihombing Lumbantoruan, maka mereka menyerahkan agar Raja Parhata diserahkan kepada keturunan Namora Panaluan Situmorang Lumbannahor. Hal ini sebenarnya tidak lazim, karena umpasa yang mengatakan:
"Tinalik huling-huling, tarida holi-holi
Molo hahana marulaon, anggina ma panamboli". 
Dalam adat normal, mestinya salah satu dari Pomparan Tuan Situmorang Sipitu Amalah mestinya jadi parhata (panamboli).


Setelah bertukar kata, kedua belah pihak telah siap untuk memulai "pangkataion". Kalau dalam acara adat normal, biasanya boru dari Paranaklah yang menyerahkan "Pinggan Panungkunan" kepada hula-hula parboru. Akan tetapi dalam acara ini, pihak paranak (Situmorang) secara khusus mengutus 3 orang keturunan Tambun Mulial manortor untuk menyerahkan pinggan panungkunan kepada pihak Lumbantoruan
Rangkaian pembicaraan pelaksanaan adat berlangsung cukup menarik di mana pihak Situmorang dan Lumbantoruan berpegang pada Tona "Tambun Mulia" untuk tidak menghitung Sinamot yang akan diserahkan oleh pihak paranak demikian juga dengan Ulos yang akan diserahkan oleh Marga Lumbantoruan, seperti Parhata Situomorang mengatakan "Tung sude ma ulos na adong di lamari ni Nantulang nami i uloshon tu hami saluhutna beremuna" (semua ulos yang tersimpan di lemari Nantulang itu agar diserahkan kepada semua berenya marga Situmorang).

Rangkaian berikutnya adalah penyerahan Sinamot dari Pihak Paranak ke pihak Parboru dalam bentuk "Marsuhat di Ampang"








Penyerahan Sinamot Marsuhat di Ampang
Penyerahan Sinamot Marsuhat di Ampang




 Panandaion juga berjalan sebagaimana dalam adat perkawinan normal yang diserahkan oleh pihak paranak kepada penerima yang ditunjuk oleh Parboru












Demikian halnya dengan penyerahan "Pinggan Panganan" kepada hula-hula Sihombing Lumbantoruan juga diserahkan langsung oleh Marga Situmorang Lumbannahor.














Penyerahan Tintin Marangkup, Jambar Juhut dan Tuak Natonggi kepada Tulang Paranak










Penyerahan Ulos Pansamot
Siap-siap menerima Ulos Hela










Peneyerahan Ulos Hela
Penyerahan Ulos Hela




Setelah menerima Ulos Hela
Setelah Menerima Ulos Hela





































Peneyerahan Ulos Tinonun Sadari
Penyerahan Ulos kepada Ketua Punguan Tuan Situmorang







Pihak Sihombing menyerahkan Ulos Holong





Penyerahan Ulos Holong



Generasi penerus Namora Panaluan dan Tambun Mulia br Hombing  




1 komentar:

Jona L Toruan mengatakan...

Mohon ijin share Amang.

Mauliate